Ilmu Budaya Dasar (Kebudayaan daerah asal masing-masing)
Ilmu Budaya Dasar
Suku Batak
Kekerabatan
Kekerabatan adalah
menyangkut hubungan hukum antar orang dalam pergaulan hidup. Ada dua bentuk
kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan
berdasarkan sosiologis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada.
Bentuk kekerabatan berdasarkan garis
keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua
suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan
kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar
marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi
kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya
misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs Marga lainnya.
Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali
disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak
tradisi antar daerah.
Adanya falsafah dalam perumpamaan
dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok
dongan partubu jonokan do dongan parhundul. merupakan suatu filosofi agar
kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman
terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu
marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan
Adat.
Kultural Batak Toba
Batak Toba adalah suatu
kesatuan kultural. Batak Toba tidak mesti tinggal diwilayah geografis Toba,
meski asal-muasal adalah Toba. Sebagaimana suku-suku bangsa lain, suku bangsa
Batak Tobapun bermigrasi kedaerah-daerah yang lebih menjanjikan penghidupan yang
labih baik. Contoh, mayoritas penduduk asli Silindung adalah marga-marga
Hutabarat, Panggabean, Simorangkir, Hutagalung, Hutapea dan Lumbantobing.
Padahal ke-enam marga tersebut adalah turunan Guru Mangaloksa yang adalah
salah- seorang anak Raja Hasibuan diwilayah Toba. Demikian pula marga Nasution
yang kebanyakan tinggal wilayah Padangsidimpuan adalah saudara marga Siahaan di
Balige, tentu kedua marga ini adalah turunan leluhur yang sama. Batak Toba
sebagai kesatuan kultural pasti dapat menyebar ke berbagai penjuru melintasi
batas-batas geografis asal leluhurnya, si Raja Batak yakni wilayah Toba yang
secara spesifik ialah Desa Sianjur Mulamula terletak di lereng Gunung Pusuk
Buhit, kira-kira 45 menit berkendara dari Pangururan, Ibukota Kabupaten Samosir,
sekarang.
1. Sama Seperti Suku Jawa,
Batak juga memiliki Beberapa Sub Suku
Salah
satu tarian Batak. Foto oleh Ester Pandiangan
Kalau
Suku Jawa yang kita tahu sendiri juga beragam, dibedakan dari daerah asalnya,
seperti Surabaya, Yogyakarta, Solo dan Malang yang walaupun secara kesukuan
sama tetapi memiliki perbedaan baik dari segi bahasa, kebiasaan maupun budaya.
Demikian juga dengan suku Batak yang juga punya beberapa sub, yaitu Batak Toba,
Batak Karo dan Batak Simalungun.
2. Menikah dengan Pariban (Sepupu)
Ada
istilah dalam suku Batak, pariban (sepupu) adalah rokkap (jodoh). Sepupu disini bukan sembarang
sepupu karena tidak semua sepupu bisa menikah. Sepupu yang dimaksud adalah,
kalau Anda perempuan, Anda bisa menikah dengan anak laki-laki dari adik perempan
ayah. Sedangkan kalau Anda laki-laki, Anda bisa menikah dengan anak perempuan
dari adik laki-laki ibu.
3. Martarombo
Gitar
Batak. Foto oleh Ester Pandiangan
Orang
Batak senang martarombo alias bertutur dan mencari-cari
hubungan saudara satu dengan yang lainnya. Jadi, misalnya ketika bertemu dengan
orang, hal yang biasa ditanyakan adalah marganya apa, kemudian akan selalu
berusaha mencari hubungan pertalian dengan marganya sendiri. Yang terjadi
adalah akan hampir selalu ada hubungan saudara bila sesama orang Batak bertemu.
4. Tuhor
Tuhor artinya uang untuk “membeli” perempuan ketika akan dilamar oleh
laki-laki. Uang tuhor inilah nantinya yang akan menjadi
biaya pernikahan, membeli kebaya pengantin perempuan, kebutuhan pernikahan
lainnya, semua tergantung kesepakatan pihak keluarga laki-laki dan perempuan.
Besarnya tuhor tergantung tingkat pendidikan si
perempuan, semakin tinggi pendidikannya ataupun posisi pekerjaannya maka
semakin besarlah tuhor. Buat sebagian besar
orang Batak yang masih memegang adat hal ini kerap tetap dilakukan. Namun buat
orang Batak yang lebih moderat sudah tidak mempermasalahkan tuhor lagi. Kalau sama-sama holong (cinta) ya tidak perlu
dipersulit.
5. Mandok Hata
Wine
khas Batak. Foto oleh Ester Pandiangan
Artinya
adalah bercakap-cakap menjelang tahun baru. Ini merupakan satu kebiasaan orang
Batak. Biasanya dilakukan saat kumpul keluarga besar. Saling bercerita mengenai
refleksi setahun yang lalu, saling meminta maaf kemudian merencanakan apa yang
ingin dicapai di tahun yang akan datang. Biasanya dimulai dari orangtua baru ke
anak yang paling kecil.
6. Tidak Boleh Menikah Satu Marga
Buat
orang Batak, terlarang untuk menikah dengan yang satu marga dengannya ataupun
tidak satu marga tapi masih saudara dalam silsilah. Jadi, dalam adat Batak
beberapa marga masih dianggap sebagai satu silsilah sehingga dianggap sebagai
saudara jadi tidak boleh menikah. Makanya, dalam setiap perkenalan selalu
ditanyakan marga apa supaya jangan kekadung cinta eh terlarang karena marga.
7. Mangulosi
Ulos
adalah kain tradisional dari Batak, sama seperti batik dari Jawa dan kain tenun
NTT. Ada bermacam-macam jenis ulos, semua tergantung dengan fungsi
pemakaiannya. Setiap upacara, baik itu pernikahan, kematian, memiliki
penggunaan kain ulos yang berbeda pula. Bahkan tidak jarang menunjukkan strata
seseorang dalam lingkungan sosial.
8. Konsep Rumah Batak
Rumah
Batak. Foto oleh Ester Pandiangan
Rumah
Batak memiliki konsep yang sangat unik dan mengandung makna yang tersirat dalam
bentuk bangunannya. Konsep rumah panggung dengan pintu masuk yang rendah yang
artinya adalah sebagai tamu selayaknya menghormati tuan rumah dan mengikuti
aturan yang ada di dalam rumah tersebut.
9. Cicak dan Orang Batak
Cicak
menjadi lambang untuk orang Batak. Layaknya cicak yang ada dimana-mana, mulai
dari rumah dengan ukuran kecil, sedang, besar, di perkampungan maupun perkotaan
demikianlah seharusnya orang Batak bisa beradaptasi dimanapun dia berada. Dan
tidak hanya beradaptasi tapi juga bertahan hidup sekeras apapun permasalahan
yang di hadapinya.
Komentar
Posting Komentar